Acara Bedah Buku Kun Bil Qur’ani Najman

Acara bedah buku pada hari Jumat 25 Maret pukul 16.00 melalui Zoom. Buku yang dibedah yaitu, “Kun Bil Qur’ani Najman” karya Saihul Basyir. Dengan mengundang para narasumber yaitu penulis bukunya sendiri Ustadz Muhammad Saihul Basyir, Lc., Al-Hafidz, KH. Mukhtar Fatawi, M.Pd.I., Al-Hafidz, Ustadz Muhammad Fadhila Azka, S.Th.I., M.Ag. dan moderator Muhammad Zikri Abdillah.

Ustadz Muhammad Saihul Basyir

Al-Qur’an itu apa? Cahaya, sumber hidayah, mukjizat. Teman-teman bertanya kembali, apalagi ustadz? Barangkali itulah penyebab kita mudah bosan, karena kita nggak kenal 100% dengan Al-Qur’an. Atau sebaliknya, kita merasa cepat puas, karena cepat hafal Al-Qur’an. Hal ini berbanding lurus dengan kita kenal seseorang, dan kita kenal dia. Kita tahu siapa dia, lahir dimana, siapa orangtuanya, lalu apa kebaikannya, apa kejelekannya.

Maka kita bisa putuskan apakah harus kenal lama atau tidak, lalu kita memutuskan cukup kenal saja, tidak sampai menjadi sahabat. Ketika seseorang mengenal Al-Qur’an. Maka dia tidak punya pilihan lain selain semakin mengenal Al-Qur’an. Apa yang bisa kita lakukan untuk mendekatkan diri dengan Al-Qur’an? Saya bukan Qari, hafalan pun saya lakukan dalam waktu yang lama, sehingga saya tidak bisa memberitahu bagaimana cara cepat untuk menghafal. Sebab saya melakukan kegiatan menghafal dari kelas 1 SD sampai sekarang.

Lalu datang tawaran menulis buku dari penerbit Gramedia, lini Islamnya yaitu Quanta pada tahun 2019. Saya tidak menawarkan naskah ke mereka, tetapi mereka yang menawarkan, kenapa pilih saya? Memangnya saya ini jago menulis, ini kan penerbit mayor. Editornya bilang bahwa beliau sudah mengenal rekam jejak saya. Akhirnya keresahan saya pun dijadikan sebuah buku motivasi. Kisah kesulitan saya dalam menghafal. Ada tentang guru-guru Qur’an saya. Buku ini telah terjual lebih dari 6.000 eksemplar.

Tentang judulnya Kun Bil Qur’ani Najman ialah statemen daripada syiar Darul Qur’an Mulia. Guru saya, beliau sering mengulang-ulang Kun Bil Qur’ani Najman, “Jadilah antum orang yang dekat dengan Al-Qur’an, yang bersahabat, yang mengorbankan hidupnya, yang mati dan hidupnya, untuk A-Qur’an, maka dengan itulah kalian akan menjadi bintang.” Dicovernya pun demikian.

Buku ini menjelaskan Ulumul Qur’an definisinya apa, mengenai kalamullah, hadis Qudsi, dengan malaikat Jibril, lalu apa beda Al-Qur’an pada zaman nabi dengan saat ini, Al-Qur’an yang terwariskan kepada kita secara mutawatir. Membaca hurufnya saja ibadah, apalagi dihafal. Sejarah para bintang Qira’at. Ayah saya meninggal, saat saya menulis buku ini. Mungkin ini pesan dari Allah. Dikarenakan kalau tidak ada wasilah dari bapak, kalau bukan karena perjuangan bapak, kamu nggak bisa sampai dititik ini.

KH. Mukhtar Fatawi

Ketika kita bicara Qur’an, hafal 30 Juz hafiz, tetapi tidak berusaha melaksanakan ajarannya, memahami sedikit demi sedikit isinya. Saya yakin yang mengikuti MTQ bukan menghafal Qu’ran untuk memenangkan lomba. Tetapi perjalanan kita menghafal Qur’an untuk menuju ke surga.

Ada beberapa hal yang baru saya tahu setelah membaca buku ini. Berbicara tentang Qur’an, maka persepsi masing-masing berbeda. Ada yang cukup dihafal kata orang awam. Buku ini mengajak kepada pembaca bukan hanya untuk sekedar konsumsi, tetapi memberikan kita contoh agar jangan pernah berpuas diri dengan apa yang kita miliki. Mudah menghakimi ialah bukti kebodohan.

Kalau ingin menghafal Qur’an, tilawahnya harus bagus dulu, ada guru, ada talaqqi. Kita lihat ada rumah tahfidz, tetapi keilmuannya belum mumpuni. Niatnya baik tetapi caranya kurang bagus. Niat dan caranya harus bagus. Prinsip utama menghafal, tajwid yang utama, memperhatikan tajwid. Ketika muraja’ah dia menikmati. Kita hafal Qur’an tetapi karakter kita tidak sesuai Al-Qur’an. Maka sebaiknya kita hafal Qur’an dan juga mempunyai karakter yang sesuai Al-Qur’an.

Ustadz Muhammad Fadhila Aska

Siapa yang menghafal Qur’an, maka pasti ia sukses. Walaupun ia memiliki banyak masalah, tetapi hidupnya seperti jalan tol, yang terus mendapatkan kemudahan. Saya mendapatkan berkah dari para ahlul Qur’an, karena saya berada di sekitar mereka. Sebab orang-orang berada disekelilingnya pun dimuliakan oleh Allah.

Saya ingin mengulas sedikit mengenai buku tersebut. Sejauh mana kita mengenal Al-Qur’an. Padahal kita tahu bahwa Al-Qur’an ini bisa menyelesaikan masalah. Menghafal itu bukan sebatas mendapatkan keuntungan duniawi semata.

Menghafal supaya masuk universitas gampang, supaya enteng jodoh. Itu merupakan sesuatu yang lumrah, lazim. Tetapi ada satu hal mendasar yaitu popularitas para penghafal Qur’an. Keuntungan duniawi ini dianggap sebagai kemuliaan Qur’an, popularitas dan sebagainya. Ada masalah disini, tulisan Basyir ini adalah menjadi solusi bagi para penghafal Qur’an dalam meluruskan niat mereka.

Al-Qur’an ialah menjadi sumber pengetahuan, epistemologi, sumber pengetahuan dari orang yang menghafalnya, menyelaminya, memahaminya, Basyir memiliki itu, ia tidak larut pada hingar-bingar popularitas.

Para penghafal Qur’an zaman dahulu, para ilmuan, para saintis berasal dari para penghafal Qur’an. Kita kenal nama mufassir yakni Ar-Razi. Beliau menghafal Qur’an, lalu menghubungkan ilmunya dari pengkajiannya pada Al-Qur’an. Atom dari surah Ar-Rahman.

Permasalahan yang ada disekitar kita, ada istilah healing, mengobati luka-luka, masalah-masalah, padahal belum bisa disebut luka. Dengan membaca buku ini maka kita akan memahami Al-Qur’an dapat menyelesaikan permasalahan kita. Saya sangat merekomendasikan buku ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *