Resensi Belajar Dari Ustadz Yusuf Mansur

Buku berjudul, “Belajar Dari Ustadz Yusuf Mansur” karya Anwar Sani, Tarmizi As-Shidiq dan Ahmad Jameel, 2014, Gramedia Pustaka Utama.

  • Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hendaklah seorang murid memperhatikan gurunya dengan pandangan penghormatan. Hendaklah ia meyakini keahlian gurunya dibanding yang lain. Karena hal itu akan menghantarkan seorang murid untuk banyak mengambil manfaat darinya, dan lebih bisa membekas dalam hati terhadap apa yang ia dengar dari gurunya tersebut.” (Al-Majmu’1/84).
  • “Banyak pesan ulama mengenai adab belajar-mengajar, termasuk sikap murid terhadap gurunya. Alhamdulillah, penulisan buku ini merupakan bentuk sikap beradab dari para penulisnya terhadap guru mereka yaitu Ustadz Yusuf Mansur, meskipun saya berusia jauh lebih tua darinya, tidak segan untuk mencium tangannya sebagai penghormatan, walaupun Ustadz Yusuf Mansur juga selalu mendahului mencium tangan saya”. (Kata Pengantar dari KH. Ahmad Kosasih, M.A.)

Buku ini terbentuk dari ketiga goresan pembina Daarul Qur’an saat ini yaitu Dr. H. Muhammad Anwar Sani, M.E selaku Rektor Institut Daarul Qur’an Jakarta, Ust. H. Tarmizi As-Shidiq, M.Ag selaku Ketua STMIK Antar Bangsa Daarul Qur’an dan KH. Ahmad Jameel, M.A selaku Pimpinan Direktorat Pendidikan Daarul Qur’an. Buku ini ditujukan untuk guru para beliau yaitu KH. Yusuf Mansur, M.E selaku pelopor PPPA (Program Pembibitan Penghafal Al-Qur’an) Daarul Qur’an.

Beragam kisah kehidupan yang ditampilkan dalam buku ini mampu mencerahkan wawasan dan pemikiran kita. Di mulai dari pertemuan ketiga sosok tersebut dengan guru mereka, Ustadz Yusuf Mansur. Cerita mengenai beratnya kesulitan, tantangan dan perjuangan untuk membangun Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an, kisah mengenai sedekah, hingga berbagai kisah menarik lain yang tentunya dibalut ilmu agama. Sehingga kita dapat mengetahui bahwa Ustadz Yusuf Mansur ternyata mempunyai mimpi yang besar, yang dilaksanakan dengan keberanian yang khidmat, serta kepemimpinan yang menggagumkan. Membaca buku ini dapat membuat kita merasakan beragam pengalaman kehidupan yang begitu sarat makna.

Bagian Pertama

Disini Ustadz Anwar Sani menuliskan kisahnya sebelum dan sesudah mengenal Ustadz Yusuf Mansur. Beliau memperhatikan teladan Ustadz Yusuf Mansur dari dekat, mengajarkan shalat tepat waktu, mengajak pada kebaikan, dan melakukan bersedekah. Ust. Anwar Sani bercerita mengenai kesulitan beliau saat diajak bergabung oleh Ust. Yusuf Masur ke PPPA. Percepatan yang dilakukan oleh Ust. Yusuf Mansur membuat beliau bingung sekaligus takjub.

Ust. Yusuf Mansur tidak memperhatikan kesulitan sebagai musibah, tetapi sebagai tantangan. Ust. Yusuf menganggap bahwa tidak ada yang tidak bisa, jika kita telah melibatkan Allah. Manajemen PPPA yang belum beres, serta sekelumit masalah lain, tidak akan bisa mengalahkan semangat Ust. Yusuf. Semuanya dilakukan secepatnya yang dilandasi dengan berdoa dan bekerja keras. Beliau menganggap bahwa kepemimpinan, keberanian dan kenekatan Ust. Yusuf begitu luar biasa.

Disela-sela aktivitas Ust. Yusuf yang amat padat, beliau masih menyempatkan diri untuk menulis. Beliau tetap membawa, membaca dan menghafal Al-Qur’an ditengah perjalanan, baik di pesawat, kapal maupun mobil. Beliau tidak ingin melakukan semuanya sendirian, maka dibentuklah PPPA (Program Pembibitan Penghafal Al-Qur’an) Daarul Qur’an membuat program ODOA (One Day One Ayat) yang telah menjadi gerakan nasional.

“Cara berdoanya sama mau minta kecil mau minta gede juga doanya sama, nah kalau sama kenapa minta yang kecil? Minta aja sekalian yang gede, toh apa yang kita minta bukan untuk pribadi, tetapi untuk bangun Pesantren Qur’an, untuk dakwah, untuk ummat, untuk Pembibitan Penghafal Al-Qur’an” (Ustadz Yusuf Mansur)

Ketiadaan fasilitas tidak menjadikan cita-cita Ust. Yusuf berhenti berjalan. Pesantren Daarul Qur’an dan PPPA tidak dibangun dari material yang konkret maupun finansial yang mencukupi, tetapi dari mimpi dan kerja keras yang selalu diiring dengan doa dan harapan kepada Allah. Banyak fasilitas tidak ada, lalu apakah tidak berjalan? Tetap dijalankan oleh Ust. Yusuf dengan meminjam majelis masyarakat yang kemudian direnovasi dan dimanfaatkan untuk mengaji anak-anak. Ketika tamu mulai berdatangan, tidak ada tempat parkir. Ust. Yusuf menyewa sebidang tanah untuk dijadikan sebagai tempat parkir. Tidak hanya berdiam diri, tetapi menseriusi niat dan siap bekerja, pray action ditambah dream, yaitu dream pray action.

Ketika Ust. Sani masih berpikir mengenai pembangunan awal Daarul Qur’an Bulak Santri yang kekurangan, sarana dan prasarana lainnya, Ust. Yusuf malah mau membeli tanah seluas 1,7 ha di Ketapang untuk membangun head quarter Daarul Qur’an. Bagaimana modalnya? Berapa miliar? Tidak ada uangnya sedikitpun. Tetapi beliau dengan penuh percaya diri mengatakan, “Memang kita nggak punya uang saat ini, tapi kita punya Allah” “Kita tetap harus jadi the winner, kalau uang kita dibawa kabur, orang sudah menipu kita, nggak usah kita sibuk mikirin akibatnya, tapi kita pikirin solusinya dan kedepannya. Urusan orang nipu biar mereka urusan sama Allah saja.” Begitulah perkataan diucapkan Ust. Yusuf saat mitranya memilih menipu beliau. Pembangunan bernilai miliaran membuat Ust. Sani tercengang, sebab belum pernah terbersit uang sebanyak itu.

Ust. Sani dipaksa menggantikan beliau melakukan ceramah. Sebagai bentuk kaderisasi, walaupun Ust Sani menganggap diri beliau tidak bisa berceramah, tidak pandai bicara, tetapi Ust. Yusuf tetap memberikan pangggung, menugaskan, untuk menggantikan Ust. Yusuf, “Bisa, antum bisa,” paksa Ustadz Yusuf. Ust. Yusuf seringkali memberikan tantangan besar dan memberikan masalah untuk memaksa beliau melakukan tugas dengan sebaik-baiknya, serta menyelesaikan masalah tersebut secara sempurna. Kemudian setelahnya rekaman yang diproduksi internal Daqu melibatkan Ust. Sani sebagai narasumber. Hal yang sama dilakukan Ust. Yusuf kepada Ust. Ahmad Jameel, Ust. Tarmizi, Ust. Hendy Irawan.

Bagian Kedua

Kisah Ust. Tarmizi bertemu dengan Ustadz Yusuf Mansur, dimulai dari proses berdirinya Yayasan Daarul Qur’an Nusantara. Ust. Tarmizi mengaku bahwa beliau sering menemani Ustadz Yusuf Mansur memenuhi undangan untuk memberikan taushiyah di berbagai kota dalam negeri maupun luar negeri. Di dalam perjalanan beliau pun acapkali mendiskusikan perkembangan dan program Daarul Qur’an.

Ketika Telkomsel mengundang Ust. Yusuf untuk taushiyah di Kantor Pusat. Beliau berbarengan tampil bersama dengan KH. Dr. Ahmad Satori Ketua Ikatan Da’i Indonesia. Sebelum menaiki podium, Ust. Yusuf mencium tangan dari Kyai Ahmad Satori. Ust. Yusuf kenal dengan tokoh-tokoh Islam di beragam ormas maupun lembaga. Syeikh Wahbah Zuhaili menjadi tamu langganan PBNU dan Daarul Qur’an. Jika ke Indonesia, ulama Syiria itu pasti singgah di PBNU dan Daarul Qur’an. Hubungan kedua lembaga menjadi begitu erat. Sebagai penyampai dakwah, Ust. Yusuf juga menjalin hubungan baik dengan para pengusaha, pejabat dan politikus. Banyak dari mereka yang bersilaturrahim ke Pesantren Daarul Qur’an, seperti Menteri BUMN Dahlan Iskan dan KH Abdullah Gymnastiar (AA Gym).

Dengan berbagai media Ust. Yusuf membangun relasi yang baik. Contohnya Trans TV, (Damai Indonesiaku) TV One, MNC TV, ANTV dan beragam media lain. Program dakwahnya dihadiri oleh Syekh Ali Jabir, Ustadz Effendy dan beberapa tokoh domestik serta internasional. Ust. Yusuf tidak segan untuk belajar, seperti mentahsin bacaan Al-Qur’an dengan Ustadz Effendy, dan Syekh-syekh Timur Tengah seperti Syeikh Bashfat, Mohammad Kholil, Saad Al-Ghomidi dan lain-lain. Padahal di dunia tahfidz, Ust. Yusuf mejadi salah satu Dewan Penasihat Organisasi Tahfidz Qur’an Internasional (Al-Hai’ah Al’alamiyyah li tahfidzil Qur’anil Kariim).

“Tidak jadi hina, jika kita belajar, justru kita akan tambah terhormat.”

Dalam awal membangun Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an Ketapang, Ust. Yusuf mengajarkan untuk bermimpi, keyakinan dan berikhtiar. Prinsip ini dream pray action yang dakwahkan kepada masyarakat, tidak hanya mengajarkan teori tetapi mengajarkan langsung dengan memberi masalah dan terjun ke lapangan umenyelesaikan masalah itu. Ust. Tarmizi menganggap bahwa beliau belum sampai kepada pemikiran Ust. Yusuf. Beliau belum mampu menangkap visi besar Ust. Yusuf. Tetapi ketika Ust. Yusuf memulai, maka beliau dengan senang hati melanjutkannya.

Bagian Ketiga

Ust. Yusuf merupakan manusia biasa yang pernah sedih, marah, kecewa, tetapi perbedaannya ialah karena beliau memiliki mental, jiwa dan sikap The Winner. Berbagai masalah yang menimpanya menjadikannya semakin yakin kepada kuasa Allah. Menjadi pribadi yang lebih dewasa daripada usianya dan memiliki inovasi baru yang menginspirasi banyak orang. Ust. Jameel menganggap wajar jika Ust. Yusuf dinobatkan sebagai salah satu tokoh perubahan. Ust. Yusuf mengenalkan konsep sedekah, tahajud, dhuha, tahfidz Qur’an, shalat tepat waktu, bersyukur dengan bahasa yang mengena kepada masyarakat luas, kisah kehidupan yang benar-benar nyata terjadi, yang dapat diaplikasikan oleh siapapun.

“Ya Allah izinkan saya punya pesantren dan bisa berangkat ke Madinah kapan saja saya mau dan bisa memberangkatkan santri-santri saya ke Madinah”, doa dari Ust. Jameel.

Doa tersebut dijawab oleh Allah melalui pertemuan beliau dengan Ust. Yusuf. Saat itu Ust. Jameel sedang aktif di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Tangerang yang dipimpin oleh KH. Abdurrahman pada saat itu. Selain aktif di DDII, Ust. Jameel juga mengajar di sekolah SMP dan SMA, serta mengajar ngaji di beberapa masjid. Tetapi keinginan kuat untuk memiliki pesantren sendiri merupakan keinginan yang tidak bisa pudar seiring berjalannya waktu. Pertemuan Ust. Jameel dengan Ust. Yusuf, saat Ust. Yusuf ingin mengenalkan buku ke-27 yang ditulis berjudul, “Temukan penyebabnya, temukan jawabannya”. Melalui buku tersebut Ust. Yusuf mengingatkan bahwa ketika terjadi masalah, kita tidak cepat-cepat mencari solusi. Tetapi diam sejenak mencari tahu penyebabnya dalam diri, mengingat kesalahan apa yang telah diperbuat. Ketika sudah menemukan penyebabnya, Ust. Yusuf menginstruksikan untuk bertaubat, memperbaiki keimanan, memperbanyak amal saleh dan memohon bantuan Allah, maka Insya Allah solusi akan diberikan oleh-Nya.

Ketika Ust. Jameel dan Ust. Yusuf bertemu, Ust. Yusuf memberikan kartu nama Pendiri Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an Ketapang Cipondoh Tangerang. Ust. Jameel merasa asing dengan nama pesantren tersebut. Ternyata pesantren tersebut berbeda dengan yang dibayangkan oleh beliau. Pesantren tersebut baru mimpi besar dari Ust. Yusuf dengan cara mengontrakkan rumah di depan rumahnya. Delapan santri dibina dan anak-anak yang tidak mampu disekitar rumah Ust. Yusuf akan disekolahkan di sekolah terdekat. Untuk para santri dibina oleh Ustadz yang Hafidz Qur’an, dengan harapan ada yang menemani Ust. Yusuf untuk shalat lima waktu, shalat tahajud, shalat dhuha, dan menghafal Al-Qur’an

Model membina santri di rumah merupakan konsep Rumah Tahfidz yang kelak menjadi salah satu program unggulan di PPPA Daarul Qur’an. Rumah Tahfidz dibangun untuk memudahkan dalam mengumpulkan sekaligus membentuk bibit-bibit penghafal Al-Qur’an.

Sebuah cerita menarik diceritakan oleh Ust. Jameel, bahwa kebiasaan masyarakat saat Idul Fitri adalah membelikan sesuatu untuk anak dan istri. Membelikan baju untuk istri, oleh-oleh untuk orangtua, mertua, kakek nenek dan keponakan. Meskipun tidak banyak, tetapi rezeki selalu datang saat hari raya. Tetapi Ied 2005 merupakan hari dimana rezeki sedang begitu sempit. Dibayangan Ust. Jameel bahwa tidak bisa membelikan sesuatu seperti Ied-Ied sebelumnya.

Karena memang saat itu masih awal-awal perjuangan membangun Pondok Tahfidz. Dimana uang di dalam dompet lebih banyak kosong dibandingkan terisi. Jika ada uang, hanya untuk membayar angkutan umum dan membeli sedikit makanan. Didalam kegundahan tersebut, Ust. Jameel memutuskan untuk bertemu Ust. Yusuf. Untuk curhat mengenai kondisi beliau, sehingga akhirnya diputuskan untuk janjian bertemu Ust. Yusuf di pesantren pada malam satu hari sebelum Ied bersama kawan beliau.

 “Bagaimana kabarnya Ustadz, tumben, ada apa ini ya?” Ust. Yusuf berujar.

“Gini ustadz,” ujar Ust. Jameel tertahan. Mulut beliau seperti tersumbat.

“Biasanya kan kalau lebaran saya membelikan baju atau apalah buat orang rumah….” Setengah tidak menyadari bahwa beliau ternyata begitu lancar untuk menyampaikan curahannya kepada Ust. Yusuf. Setelah selesai curhat beliau menundukkan kepala.

“Brak!” suara keras mengejutkan beliau. Beliau mengira bahwa ada barang jatuh, tetapi ternyata setelah dilihat, hal tersebut merupakan gebrakkan Ust. Yusuf terhadap meja di depannya.

“Antum masih kurang yakin dengan perjuangan kita? Intangshurullah yangshurkum wa yutsabbit aqdamakum… Kalau kita tolong agama Allah, ga mungkin Allah diem, engga mungkin Allah membiarkan kita begitu saja, pasti pertolongan Allah akan datang” kalimat yang dikeluarkan oleh Ust. Yusuf.

Ust. Jameel begitu terkejut, dan ada yang mengganjal di hati beliau. Insya Allah jika perjuangan ini berhasil bukan hanya akan lebaran setahun sekali tapi tiap hari” ujar beliau dalam hatinya.

Akhirnya malam itu Ust. Jameel pulang tanpa hasil apapun. Tetapi kalimat Ust. Yusuf sangat mengguncang hati beliau. Perasaan malu bahwa masih mengharapkan sesuatu dari manusia. Beliau menganggap bahwa saat memilih jalan dakwah, ujian dan tantangan datang silih berganti, tetapi ketergantungan terhadap Allah harus terus dilakukan, serta mengabaikan ketergantungan kepada selain Allah.

 “Otak dan akal manusia sangatlah terbatas. Kemampuan dan pengetahuannya juga terbatas. Dan ada yang tidak terbatas. Dialah Allah azza wa jalla. Sangat bisa untuk segera meraih sukses, sangat mungkin untuk segera meraih kemenangan. Caranya? Dengan menjadikan Allah sebagai Mitra sejak melangkah di perjalanan” kata Ust. Yusuf menasehati.

Ust. Yusuf membentuk cara berpikir besar. Bahwa jika kita berfikir besar maka hasil akan besar, jika kita berfikir kecil maka hasil akan kecil. “Berpikir kecil sama besar, sama-sama membutuhkan waktu, butuh doa, butuh ikhtiar, kenapa masih berpikir kecil? Harusnya kita berpikir besar. Karena ada Allah yang Maha Besar, ada Allah Yang Maha Kaya, ada Allah yang malu jika doa hamba Nya tidak dikabulkan” ujar Ust. Yusuf.

Begitulah sedikit cuplikan kisah dari beragam kisah yang dituangkan dalam buku berjudul Belajar Dari Ustadz Yusuf Mansur. Semoga kita dapat menuai hikmah dari cerita mengenai guru kita semua yaitu, Ustadz Yusuf Mansur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *