Resensi Buku Khawatir Facebookiyah

Resensi Buku Khawatir Facebookiyah:

Bunga Rampai Refleksi Pemikiran Keislaman dan Kepesantrenan

Ahmad Suharto, Namela, 2021

Kumpulan tulisan di dinding Facebook penulis yang telah disusun menjadi sebuah buku. Berkaitan dengan keislaman dan pesantren. Tulisan dalam buku ini bersifat refleksi ataupun hasil perenungan. Setiap lembarannya memang belum tentu saling berkaitan, tetapi membacanya dapat mengangkat pemahaman kita mengenai beberapa hal dalam kehidupan.

Seperti mendidik wanita itu strategis karena sama dengan mendidik satu keluarga. Dalam kepribadian muslimah unggul ada penjagaan diri, kebersihan diri, rasa malu, keanggunan dan ketenangan, wibawa dan lain sebagainya. Pembentukan ini menjadi komitmen bagi para pendidik. Pendidikan tersebut tidak hanya pada jam pelajaran, tetapi di segala aktivitas dan keseharian dalam kehidupan (hlm 25-27). Sebagai wanita perlu untuk kemudian mempelajari dalam hal bersikap dan memikirkan bagaimana kepribadian yang sesuai dengan konteks muslimah.

Kemudian ada pernyataan lebih baik kekurangan kelas daripada banyak ruang kelas yang kosong karena kekurangan santri (hlm. 40) saya sangat setuju dengan hal tersebut, bukan dalam artian tidak mau berkembang, tetapi sebab keterbatasn dana ataupun hal lain. Dikarenakan jumlah murid penting agar semakin tersebarnya ilmu pengetahuan. Kuantitas dulu kemudian baru kualitas seiring berjalannya waktu.

Penulis berbicara tentang hakim, kebanyakan hakim-hakim kita masuk kategori yang mana ya? (hanya bertanya). Masalahnya, ia tidak percaya dengan hari pembalasan, perhitungan (hisab), balasan surga dan ancaman neraka. Bahkan Allah pun tidak ditakuti, kalah dengan uang, jabatan dan kedudukan (hlm. 39). Saya tidak setuju dengan pernyataan penulis dikarenakan saya yakin pula banyak hakim jujur di Indonesia ini, sementara yang korupsi tentu hanya sebagian kecil saja. Contoh 10 orang korupsi dari 100 hakim, apakah bisa dikatakan banyak? Dikatakan banyak tentu jika ada diatas 50 dari 100 hakim yang korupsi. Tetapi tentu berbeda jika pimpinan hakim korupsi padahal bawahan tidak demikian, maka akan sulit melawan kehendak pimpinan sebab ia berkuasa, jadilah “banyak” yang melakukan korupsi, hal tersebut mungkin dimaksud oleh penulis.

Ada kalimat yang menarik disampaikan penulis. Sibuk dengan nikmat, tapi lalai dengan Sang Pemberi nikmat. Sibuk belajar ilmu, namun malas mengamalkannya. Bangga dekat orang-orang shalih, tapi enggan meneladani keshalihannya. Bersegera berbuat dosa, namun bermalas-malasan untuk bertaubat. Sadar dunia semakin menjauh, malah dikejar-kejar. Dan faham akhirat (kematian) mendekat, tetapi tidak juga untuk bersiap-siap. Ya Allah Kami Berlindung Kepadamu Dari Sikap-sikap Ini (hlm. 152). Saya yakin banyak kalimat dalam buku ini yang menarik seperti halnya kalimat barusan. Kalimat yang cocok untuk dicatat, tidak hanya pada kertas, tetapi juga dalam hati dan pikiran kita.

Tulisan pada buku ini perlu dibaca dengan tenang dan diresapi maknanya. Meski terkadang tulisannya berargumentasi “keras” dalam arti memaksa untuk setuju, tetapi tetap dapat dijadikan sebagai awalan untuk berpikir lebih lanjut mengenai hal-hal yang disampaikan oleh penulis tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *