Resensi Buku Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam

Nur Chamid, Pustaka Pelajar, 2017

Drs. Nur Chamid, MM merupakan dosen tetap bidang Ekonomi Islam di STAIN Kediri. Lulus S1 di Fakultas Ilmu Agama Islam (Ushuluddin) Universitas Darul Ulum Jombang, dan S2 Manajemen Sumberdaya Manusia (MSDM) Universitas Merdeka Malang. Saat ini sedang menempuh Program Doktor (S3) Ekonomi Islam di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya.

Buku berjudul, “Jejak Langkah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam” merupakan tulisan membahas mengenai sejarah ekonomi yang dilakukan oleh para tokoh muslim. Dicantumkan beberapa ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi terkait ekonomi Islam, serta sedikit kisah dari para tokoh muslim.

Seperti Umar yang memiliki kehati-hatian terhadap kekayaan negara, sebab keyakinan bahwa harta tersebut ialah milik Allah SWT. Umar sangat teliti dalam mengembangkan jumlah kekayaan umum. Dengan memperhatikan masalah perpajakan, sebab keadilan perpajakan seringkali tidak terwujud karena penanggungjawab kebijakan sering menentukan jumlah pajak sesuai kemauannya. Lalu pengusaha yang tidak mau membayar pajak ditekan oleh pemerintah. Serta masalah pengeluaran negara yang boros maupun penggunaan harta yang tidak terarah dan terencana dengan baik diminimalisir.

Baitul Maal bertugas sebagai pelaksana kebijakan fiskal negara Islam serta Khalifah ialah penguasa penuh atas dana tersebut. Walaupun uang dan properti Baitul Maal dikontrol oleh pejabat keuangan, maupun disimpan dalam penyimpanan semacam zakat, tetapi mereka tidak memiliki kewenangan dalam membuat keputusan. Kekayaan negara ditujukan untuk kelas-kelas tertentu yang sudah diklasifikasi terlebih dahulu, dan kekayaan tersebut harus dibelanjakan selaras dengan prinsip-prinsip Qur’an.

Sehingga properti dan kekayaan di Baitul Maal ialah hartanya kaum muslimin, sementara Khalifah dan Amil Zakat hanya bertugas sebagai penjaga amanah tersebut. Maka tanggungjawab pemerintahan diantaranya menyediakan tunjangan berkesinambungan untuk janda, anak yatim, anak terlantar, membiayai penguburan orang miskin, membayar utang orang yang bangkrut, membayar diyat untuk kasus tertentu, memberikan pinjaman tanpa bunga untuk urusan tertentu, bahkan Umar sendiri pernah meminjam uang untuk keperluan pribadinya.

Umar memerintah secara konsisten memelihara Baitul Maal dengan hati-hati, menerima pemasukan dan sesuatu yang halal sesuai syari’ah, serta mendistribusikannya pada yang berhak menerimanya. Umar pernah berkata, “Tidak dihalalkan bagiku dari harta milik Allah ini melainkan dua potong pakaian musim panas dan sepotong pakaian musim dingin, serta uang yang cukup untuk kehidupan sehari-hari seseorang di antara orang-orang Quraisy biasa, dan aku adalah seorang biasa seperti kebanyakan kaum Muslimin.”

Buku ini membahas pula mengenai pemikiran ekonomi Islam beserta sejarahnya. Masa Rasulullah Saw. selanjutnya Khulafaurrasidin, pasca khulafaurrasidin, Bani Abbasiyah, serta berbagai tokoh seperti Imam Malik bin Anas, Ahmad bin Hambal, Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun, Ibnu Hazm dan beragam tokoh lain. Sejarah ekonomi Islam digambarkan begitu lengkap dan detail. Dikarenakan buku ini ialah buku referensi maka pembaca perlu untuk meluangkan cukup waktu dalam membaca dan memahaminya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *